Wednesday, 9 December 2015

2. Kerikil Dalam Sepatu



Laki-laki berewokan bertubuh kekar yang memberi penjelasan tentang 108 FM itu namanya Aprilianto. Gak jelas sejak kapan, tapi semuanya sepakat untuk memanggilnya Mas April. Asli keturunan Jawa tapi lahir dan besar di Jagong, satu daerah yang letaknya betul-betul di atas awan, di salah satu pucuk gunung Kabupaten Aceh Tengah.

Perpustakaan berbentuk 'L' ini ternyata digunakan juga sebagai ruang rapat. Para penyiar baru, duduk manis di karpet dengan kru 108 FM yang lain. Seorang perempuan bertubuh mungil dengan wajah bernuansa jepang, memeluk bantal yang desainnya meniru donat. Jani mencoba mengingat namanya, ah iya, Kak Yuyun. Dia station manager. Sedangkan mas April, yang dalam percakapan, terus berjuang menanamkan pesan agar dirinya dipanggil Ariel, adalah Music Director merangkap kepala sukunya tim Kreatif.

Usaha mas April jelas sia-sia, karena setiap kali dia ngomong segala sesuatu yang berkaitan dengan Ariel, misalnya; kalau menurut Ariel ya, atau Ariel tuh pengennya kita bla bla bla. Pasti yang lainnya kompak ngejawab. "Iya, mas April."

Friday, 31 July 2015

1. Kesan Pertama Itu Begitu ...

Source. www.telegraph.co.uk

"Kiri, bang kiri" Jani dengan kesal menjulurkan tangan keluar jendela labi-labi* lalu menggebrak body mobil angkutan umum itu. Mobil kontan berhenti. Cowok bertubuh langsing, dengan kulit sawo terlalu matang itu turun. Masih kesal, Jani mengebrak lagi body mobil.

Beuh. Ini labi-labi kok semena-mena. Sudah jalannya sesuka hati, eh gak ada kenet**nya. Jadi penumpang semuanya serba mandiri. Naik sendiri, mau turun juga mencet bel sendiri. Dan belnya rusak. 


Hitung punya hitung, Karena mobil terlambat berhenti, Jani harus jalan cukup jauh untuk menuju tempat yang ditujunya. Supirnya wajib di tegur, kelakuan begini ini, adalah bukti betapa sudah sangat buruknya kualitas layanan publik. Dan menyalahi undang-undang dasar yang menyebutkan adanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.