Wednesday, 9 December 2015

2. Kerikil Dalam Sepatu



Laki-laki berewokan bertubuh kekar yang memberi penjelasan tentang 108 FM itu namanya Aprilianto. Gak jelas sejak kapan, tapi semuanya sepakat untuk memanggilnya Mas April. Asli keturunan Jawa tapi lahir dan besar di Jagong, satu daerah yang letaknya betul-betul di atas awan, di salah satu pucuk gunung Kabupaten Aceh Tengah.

Perpustakaan berbentuk 'L' ini ternyata digunakan juga sebagai ruang rapat. Para penyiar baru, duduk manis di karpet dengan kru 108 FM yang lain. Seorang perempuan bertubuh mungil dengan wajah bernuansa jepang, memeluk bantal yang desainnya meniru donat. Jani mencoba mengingat namanya, ah iya, Kak Yuyun. Dia station manager. Sedangkan mas April, yang dalam percakapan, terus berjuang menanamkan pesan agar dirinya dipanggil Ariel, adalah Music Director merangkap kepala sukunya tim Kreatif.

Usaha mas April jelas sia-sia, karena setiap kali dia ngomong segala sesuatu yang berkaitan dengan Ariel, misalnya; kalau menurut Ariel ya, atau Ariel tuh pengennya kita bla bla bla. Pasti yang lainnya kompak ngejawab. "Iya, mas April."

Tasha dan Albert serius mencatat penjelasan mas April, Di sebelah mereka ada beberapa kru 108 FM. Yang pakai baju merah dengan logo Flash, superhero komik yang punya kecepatan tinggi dalam bergerak itu namanya Aci, disebelahnya ada TM, dibaca te-em, berkacamata, muka tirus, janggut tipis tapi panjang diujung dagu. Sedikit agak jauh dari TM, ada Maya, Program Director, tinggi, coklat manis bukan hitam manis, berjilbab sangat lebar dengan gaya sederhana. Mengingatkan Jani akan anak mushala di kampusnya dulu.

Jilbaber yang disamping Maya, lebih mungil. Wajahnya seperti orang keturunan hindustan, yang ini hitam manis, Amalia namanya, orang yang paling penting di radio, begitu kata Juki, karena dia manajer keuangan. Kehadirannya selalu ditunggu sekaligus tidak diharapkan. Ditunggu karena soal gajian, tapi sangat tidak diharapkan kalau punya hutang di catatan keuangan. Langsung dipotong sebelum gaji diserahkan.

Juki. Ah, Jani menggaruk pelan kepalanya yang mendadak gatal tanpa sebab. Dan anehnya itu sering terjadi kalau Jani melihat Juki.

Semua hal yang baru dilihatnya di 108 FM rata-rata menyenangkan. Sampai kemudian dia melihat Juki duduk di sofa sambil membaca National Geographic edisi bahasa inggris. Dan kegembiraan Jani berkurang. Mereka pernah sama-sama jadi penyiar di radio lain, dan ketika Jani akhirnya mengundurkan diri demi menyelesaikan skripsinya yang terancam akan merayakan ulang tahun ketiga, Juki masih jadi kerikil dalam sepatu, mengganggu betul ini orang.

Jani percaya, ada manusia yang memang ditakdirkan untuk menyebalkan. Juki salah satunya. Tahun boleh  berganti, usia boleh nambah, tapi Juki tetap menyebalkan. Pinter sih, pakai banget. Bisa bicara bahasa Jerman, Perancis, juga bahasa Inggris dengan tiga logat, British, Amerika, dan Tegal. Lulusan ilmu komputer dan pernah menang lomba software tingkat nasional. Kontributor untuk satu stasiun tv di Perancis. Penulis tetap dimajalah travel online. Dan tidak pernah berusaha untuk rendah hati. Selalu siap menunjukkan keunggulannya. Selalu dengan suka cita memamerkan kalau dia cum laude di kampusnya, dan selalu punya kritikan untuk siapapun di sekitarnya, gak peduli seberapa bagus yang dilakukan orang lain, Juki pasti bisa menemukan sesuatu untuk dicela. Kritik? Gak juga sih, terlalu tajam soalnya. Juki itu betul-betul kerikil dalam sepatu.

Sayangnya, Juki itu pinter. Kemampuannya hebat. Jadi dengan terpaksa, orang-orang disekitarnya menyimpan kesal sambil gak putus berdoa semoga dia bisa jadi seperti tokoh-tokoh di sinetron misteri Illahi. Yang bisa tobat, jadi manusia baik hati nan ramah, yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Serta menjunjung nilai kemanusian yang adil dan beradab, pancasila, dan arti persahabatan seperti di film Doraemon.

Jani mengalihkan pandangan. Dan melihat lagi gadis itu. Di cermin besar di dinding, gadis itu berdiri di sudut ruangan. Di belakang mereka semua. Tepat diujung rak buku. Jilbab putih panjang, baju putih yang melambai pelan. Wajah kembaran Deepika Padukone.

Jani merasakan udara dingin membelai tengkuknya. Perlahan dia berpaling. Dan udara seketika terasa lebih dingin. Suara-suara mendadak menghilang. Sudut itu kosong.

No comments:

Post a Comment