Friday, 31 July 2015

1. Kesan Pertama Itu Begitu ...

Source. www.telegraph.co.uk

"Kiri, bang kiri" Jani dengan kesal menjulurkan tangan keluar jendela labi-labi* lalu menggebrak body mobil angkutan umum itu. Mobil kontan berhenti. Cowok bertubuh langsing, dengan kulit sawo terlalu matang itu turun. Masih kesal, Jani mengebrak lagi body mobil.

Beuh. Ini labi-labi kok semena-mena. Sudah jalannya sesuka hati, eh gak ada kenet**nya. Jadi penumpang semuanya serba mandiri. Naik sendiri, mau turun juga mencet bel sendiri. Dan belnya rusak. 


Hitung punya hitung, Karena mobil terlambat berhenti, Jani harus jalan cukup jauh untuk menuju tempat yang ditujunya. Supirnya wajib di tegur, kelakuan begini ini, adalah bukti betapa sudah sangat buruknya kualitas layanan publik. Dan menyalahi undang-undang dasar yang menyebutkan adanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.


"Bang ..." Kalimat penuh emosi dari Jani mendadak macet. Sopir memandangi Jani. Jani juga. Fokusnya pada kumis besar melintang, Ruang untuk sopir sepertinya tidak di desin untuk orang sebesar itu. Lengannya yang menekuk bahkan lebih besar dari paha Jani. Lengkap dengan otot bulet bunder sebesar semangka. Jari-jari yang menggenggam stir sebesar pisang ayam. Yang subur, bukan yang kurang pupuk pisangnya. Cincin batu besar-besar melingkari setiap jari, termasuk jempol.

Jani tersenyum ramah, mengansurkan uang sambil menunjuk cincin di jempol si abang supir, "..cempaka bang ya?"


Bang supir mengangguk dengan muka sangar. Jani menelan ludah, memaksakan tersenyum "Saya punya yang giok salju, bang."


Si abang supir melirik cincin mungil di jari Jani. Kelihatan kurang gizi kalau dibanding cincin di jarinya. Dan ajaib, senyumnya merekah. Kekuatan solidaritas sesama pemakai cincin batu. 


"Ih, manis cincinnya. Suka." Ujar si abang lembut, sambi menyerahkan uang kembalian. Lalu menjalankan mobil, tak lupa melambai dan tersenyum lembut kepada Jani. Yang berdiri terpana.


Jani memandangi mobil yang menjauh. Senyum si Abang masih membayang dalam ingatannya. Matahari bersinar cerah. Kilaunya terpantul di jendela-jendela kaca berukuran besar, dari berbagai bangunan perkantoran di belakang Jani. Di seberang jalan, pusat perbelanjaan ramai dan ceria. Tapi Jani merasakan angin dingin berhembus pelan membelai tengkuknya. Jani merinding.


Alarm dari reminder ponselnya menyentakkan Jani. Dengan panik ia melihat jam, dan sadar hanya punya waktu lima menit untuk segera menemukan tempat tujuannya. Jani berlari sambil melihat sekeliling. Dan menemukan Bank Goldpita. Mengingat-ingat pesan sms, semestinya di dekat bank itu ada tanda bertuliskan ...


"Albert, itu tuh, 108 FM." Seorang cewek bertubuh montok berlari melewati Jani. Cowok dengan kulit gelap dan wajah khas Indonesia timur berlari dibelakangnya. Keduanya tergesa berbelok ke jalan di samping bank. Bukan jalan aspal, tapi beton paving block, cukup lebar untuk dilalui dua mobil. Tanda seperti rambu penunjuk arah berdiri tegak di sudut jalan. Beberapa lembaran logam berbentuk panah dengan tulisan keterangan tempat atau arah berbaris-baris disepanjang tiangnya.


Sadar mereka sedang menuju tempat yang sama, Jani juga ikut lari. Dengan penuh keyakinan Jani melewati si cowok yang mestinya bernama Albert. Tapi Albert menambah kecepatan, dia kembali mendahului Jani.


Jani menarik nafas, dan mempercepat. Yup, dia kembali di depan Albert. Tapi hanya sedetik Albert lagi-lagi mendahului Jani, sambil tersenyum. Ini tidak boleh dibiarkan, Jani menarik nafas lebih dalam mengumpulkan tenaga, lalu melesat.


Rasain. Hidup memang penuh perjuangan kawan. Jani melirik kebelakang dengan penuh kemenangan, dan kaget. Jalanan dibelakangnya kosong. Lho kemana mereka. Jani berbalik dan dengan panik mencari-cari.


Lalu ia melihat rumah besar itu. Ada neon box besar dengan tulisan 108 FM terpasang di depannya. Jani melihat Albert sedang melangkah masuk. Sekilas Albert melirik ke arahnya. dari jauh pun Jani bisa melihat Albert tersenyum.


Jani berdiri di depan pintu kaca, berlutut mengumpulkan kembali nafas. Ketika ia menegakkan badan, dari pantulan di pintu kaca, Jani melihat seorang gadis berdiri di belakangnya. Wajahnya cantik, dengan alis tebal dan hidung mancung, senyumnya manis, mengingatkan Jani pada aktris Bollywood, Deepika Padukone. 


Dengan senyum dibagus-bagusin Jani berbalik hendak menyapa gadis itu. Tapi tidak ada siapapun dibelakangnya. Jangankan gadis cantik berjilbab putih yang dilihatnya tadi, kucing pun tidak ada.


Udara dingin tadi kembali membelai tengkuk Jani. Ia merinding.


Mencoba terlihat tak gentar, Jani maju membela yang benar. Ia membuka pintu kaca dan melangkah masuk. 


Ruangan lobi itu ditata dengan sangat nyaman. Sofa yang sudah agak tua tapi masih sangat bagus menempati sudut depan. Bersebarangan dengan meja resepsionis. Seorang gadis berkaca mata dengan wajah seperti model sedang mengetik sesuatu dibalik layar komputer berukuran besar. Ada satu bar besar di sudut belakang, seperti gabungan antara bar dan pantry. Beberapa orang santai ngobrol disitu, aroma kopi wangi mengisi ruangan.


Sudut lain ruangan seperti perpaduan antara pustaka dengan ruang santai. Desainernya bisa diduga type yang suka memadukan dua hal berbeda karakter. Rak buku memenuhi dinding, berbelok mengikuti ruangan yang seperti huruf L. Tapi kesan kaku dan keras rak kayu sederhana itu dilembutkan dengan beberapa sofa dan bantal besar, karpet yang terlihat tebal dan nyaman melapis lantai.


Lalu semua mendadak melihat ke arahnya, tepatnya ke arah kaki.


Jani menunduk, dan sadar dia sedang menginjak karpet, masih mengenakan sepatu. Melirik sedikit ke belakang kakinya, sederetan sepatu dan sandal berbaris rapi. Ada undakan kecil, yang menjadi pemisah antara area berkarpet dengan tempat alas kaki. Jani teringat rumah-rumah ala jepang.


Perlahan Jani mundur membuka alas kaki, bersyukur hari ini ia mengenakan sepatu kets baru dan kaus kaki baru. Masih dengan muka memerah Jani memaksakan senyum dan duduk disamping Albert. Mengulurkan tangan ia memperkenalkan diri.


"Jani." 


"Albert. itu Tasya." Albert menyambut tangannya, lagi-lagi tersenyum, menunjuk Tasha dengan gerakan kepala. Tasya tersenyum. Albert menepuk tangan Jani pelan lalu berbisik "Kamu sepertinya lupa mencabut label itu kaus kaki."


Jani menunduk, melihat tak percaya, pada label merk kaus kaki yang melambai dengan ceria.


Tasya tergelak, Albert senyumnya semakin lebar. Jani nelangsa.

(bersambung)

* Istilah untuk angkutan umum 

** kondektur

2 comments:

  1. Menarik bang, penasaran selanjutnya gimana :)

    ReplyDelete
  2. gak tahu kenapa, menurutku kayaknya, bang said lebih kece ngomongin materi yang beginian sama satu lagi: public speaking, saya rasa abang bisa menciptakan segmen yang arahnya kesini, lagian base abang soal itu sudah cukup kuat.
    tidak bermkasud jahat dalam memberi komentar..

    ReplyDelete